“Jawaban Sharing Antropologi”

  1. Cara memindahkan personality seseorang atas tiga pilar, pengetahuan, perasaan dan naluri dalam tindakan manusia

Sebagaimana yang kita ketahui sebuah “konsep” tidak dapat secara langsung teraplikasikan sebelum pancaindra memprosesnya, misalnya dengan jalan melihat melalui mata, mendengar melalui telinga, merasa dan meraba melalui kulit, maupun mengecapnya melalui  lidah. Begitupula cara yang dapat dilakukan untuk memindahkan personality (kepribadian) yang dibangun atas dasar (pengetahuan, perasaan, dan naluri) kedalam sebuah tindakan, juga memerlukan sebuah proses “memindahkan konsep” tersebut dari sistem panca indra yang diolah melalui akal dan berkembang menjadi gagasan/ide (khusus untuk pilar pengetahuan). Selanjutnya, dari pengetahuan yang ada kembali di timbang melalui perasaan (apakah telah sesuai dengan konteks pemikirannya), kelanjutan dari pilar-pilar pengetahuan dan perasaan adalah “naluri” yang telah berasal dari dalam diri seseorang ( termuat di dalam 7 dorongan naluri), sedangkan pemindahannya biasanya disesuaikan dengan kebutuhan seseorang, apabila kebutuhannya sifatnya mendesak maka kecendrungan untuk berbuatpun akan semakin besar, adapun kebutuhan seseorang dilihat kembali dari segi materiil dan spiritual, dimana pemenuhan kebutuhan ini mengharuskan orang untuk berusaha mencapainya.

Adapun jalan yang dapat ditempuh, yaitu: memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk dirinya dengan menunjukkan bakat yang ada, misalnya ia mempunyai bakat suka menyanyi maka berikan dorongan yang kuat agar ia mau menunjukkan bakat tersebut kearah yang benar (dengan jalan mengikuti lomba-lomba nyanyi maupun dengan ikut les vocal)

Sedangkan cara lainnya adalah dengan jalan paksaan (ancaman). Kecendrungan orang berbuat apabila sifatnya memaksa maka akan lebih besar pengaruhnya dibandingkan dengan menunggu kesadaran diri orang tersebut, biasanya penerapan disiplin yang ketat akan membentuk karakter orang lebih kaku walaupun seragam dala pola tindakan dan perilakunya.

Pemberiaan penghargaan maupun hadiah adalah salah satu cara untuk mendorong orang lebih cepat melaksanakan sesuatu, biasanya hadiah merupakan penguatan positif yang tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap perkembangannya.

2.Contoh konkret memindahkan tiga wujud kebudayaan kedalam suatu masyarakat yakni

Kebudayaan adalah  sistem pengetahuan yakni penggabungan dari  sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak (berwujud fisik).

Dari ide (berupa gagasan-gagasan) yang letaknya ada dikepala masing-masing orang, yang sifatnya tidak terlihat, tidak dapat diraba maupun difoto untuk mengetahuinya (abstrak). Untuk itu, setelah manusia mengenal tulisan (zaman sejarah) pengembangan konsep ide ini disalurkan melalui tulisan. Agar ide yang ada dikepalanya dapat diketahui oleh orang lain, karenanya sumber tulisan dalam sejarah amatlah penting untuk menjabarkan peristiwa-peristiwa masa lampau.

Setelah memaknai konsep ide, maka orang akan beraktifitas , sifatnya lebih konkret karena kita dapat melihat, karena itu aktifitas manusi ini dimasukkan dalam sistem sosial, dimana manusia saling berinteraksi, bekerjasama maupun saling bertentangan. Antara aktivitas seseorang dengan yang lain tentunya berbeda-beda mengingat pola pikir yang ada dikepal masing-masing juga berbeda. Hingganya kebudayaan yang dihasilkannya pun cenderung berbeda pula.

Sedangkan perwujudan kebudayaan dari yang dua tadi (ide dan aktivitas) adalah benda-benda yang berwujud(artefak), benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Sedangkan contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari misalnya saja fasilitas-fasilitas yang mempermudah orang untuk bekerja seperti: laptop dengan sistem yang semakin canggih, handphone,  sepeda motor.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.

3.Memaknai konsep migrasi, akulturasi dan asimilasi dalam masyarakat Banjar.

Melihat dari gejala yang ada di dalam struktur masyarakat Banjar, kebudayaannya (Banjar culture) banyak dipengaruhi oleh islam (islamic of centre).

Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan. Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur penyebaran kebudayaan seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Salah satu bentuk difusi dibawa oleh kelompok-kelompok yang bermigrasi. Namun bisa juga tanpa adanaya migrasi, tetapi karena ada guru-guru yang membawa unsur-unsur kebudayaan itu, dan mereka adalah para pedagang dan pelaut. Begitupula dengan apa yang terjadi pada kebudayaan urang banjar, proses migrasi yang terjadi juga turut mengikutkan kebudayaannya, banyak dibawa oleh pedagang-pedagang serta kelompok-kelompoknya. Proses migrasi ini melibatkan penduduk pendatang dengan penduduk asli melakukan hubungan kebudayaan atau yang dikenal dengan akulturasi.

Akulturasi dan Pembauran atau Asimilasi. Akulturasi. Proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan demikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan dioalh kedalm kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Nah, inilah yang terjadipula pada penduduk Banjar yang banyak mendapatkankan konsep budayanya dari islam, terlihat pada pengaruh yang dirasakan oleh penerima budaya di Banjarmasin.

Asimilasi. Proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar kebudayaan yang berbeda-beda. Kemudian saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan yang campuran. Budaya orang Banjar tidak sepenuhnya terkikis oleh kebudayaan dari pendatang. Namun, dipadukan dan diintegrasikan agar menjadi kebudayaan yang tinggi (peradaban).

4.Kekayaan sumber daya alam tidak menjadikan masyarakat mendapatkan tingkat kemakmuran yang tidak memadai dikarenakan SDA yang melimpah bukan jaminan kesejahteraan maupun memakmuran bagi penghuninya. Tetapi yang menjadi pengontrol dari SDA tersebut adalah bagaimana kualitas Sumber Daya Manusia yang ada, sehingga pemanfaatan SDA tersebut benar-benar terkelola dengan baik oleh tangan-tangan handal dari dalam negeri sendiri. Sedangkan dari sudut pandang budaya sendiri yakni sebuah kekuatan budaya yang melekat dari masyarakatnya sendiri, gejala konsumerisme sebagai akibat globalisasi juga sudah membudaya di kalangan masyarakat Indonesia, sehingga ada kecendrungan sifat orang-orang kita hanya bisa menikmati tanpa harus susah-susah mikir, ibaratnya begini “ngapain mencari yang susah-susah kalau yang mudah didepan mata”

5.Menurut kajian kebudayaan penyebab pokok para guru susah melakukan penemuan-penemuan serta penerapan penemuan-penemuan baru dalam pembaharuan pendidikan.

Sebelum berbicara panjang lebar tentang alasan susahnya para guru untuk melakukan penemuan dan menerapkannya, ada baiknya kita mengetahui konsep Inovasi/penemuan adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal serta penataan kembali dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru, sehingga terbentuk suatu sistem produksi dari produk-produk baru. Suatu proses inovasi tentu berkaitan  penemuan baru dalam teknologi, yang biasanya merupakan suatu proses sosial yang melalui tahap discovery dan invension.

Pendorong penemuan baru. Faktor-faktor yang menjadi pendorong bagi seorang guru untuk memulai serta mengembangkan penemuan baru adalah (1) kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan; (2) mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan; (3) sistem perangsang bagi kegiatan mencipta. Penemuan baru sering kali terjadi saat ada suatu krisis masyarakat, dan suatu krisis terjadi karena banyak orang merasa tidak puas karena mereka melihat kekurangan-kekurangan yang ada di sekelilingnya.

Dengan demikian proses inovasi itu merupakan suatu proses evolusi juga. Bedanya ialah bahwa dalam proses inovasi  para guru berperan secara aktif, sedangkan dalam proses evolusi para guru itu pasif, bahkan seringkali negatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s