kondisi fisik sungai veteran

Bagi sebagian orang melewati jalan veteran Km.4,adalah hal yang biasa mengingat yang lewat sana baru pertama kali, tetapi tidak bagiku yang terkadang mewajibkan aku untuk melewati jalan tersebut. Apalagi jalan yang nantinya harus ku jalani ada beberapa pilihan salah satunya yaitu jalan veteran ini.

Kawasan jalan veteran ini berada dibantaran sungai Martapura yang alirannya melewati hingga kawasan ini, anak sungainya pun juga mengalir melewati beberapa kawasan dan salah satunya hingga kejalan veteran Km.4 hanya saja anak sungai ini telah tertutup oleh bangunan-bangunan yang sebagian besar masyarakat yang bermata pancaharian sebagai pedagang, maklum saja kawasan ini ramai karena banyaknya aktivitas perdagangan yang dilakukan.

Ketika Perda yang berisi (tentang pelarangan membangun rumah dibantaran sungai) menjadikan salah satu inspirasi pemerintah untuk mengembalikan sisa-sisa kejayaan (merivitalisasi) kota Banjarmasin sebagai “kota seribu sungai”karena predikat itulah pemerintah melakukan berbagai upaya agar dapat menyandang kembali predikat tersebut.

Melihat dari kacamata pemerintah sebagai salah satu usaha melakukan perbaikan infrastruktur guna tindak lanjut dari perda diatas, Yaitu dengan menertibkan bangunan-bangunan yang ada dalam klasifikasi berada dibantaran-bantaran sungai seperti dibawah ini:

  1. Sungai besar (misalnya,sungai Martapura)

  2. Sungai sedang (misalnya,sungai Teluk dalam)

  3. Sungai kecil (misalnya,sungai-sungai yang melintasi di sekitar mesjid Sabilal Muhtadin),dan;

  4. Anak sungai yang jumlahnya sangat banyak salah satunya seperti sungai yang melalui kawasan Jalan Veteran Km.5 hingga Veteran Km.3.

Penertiban bangunan dibantaran sungai yang dilakukan pemerintah daerah kota Banjarmasin berdampak pada pembongkaran rumah-rumah yang berada di jalan Veteran Km.4 dari seberang SLTP Negeri 7 Banjarmasin, walaupun dilaksanakan dengan jalan bertahap dari salah satu kawasan. Namun, apakah pemerintah telah memikirkan secara matang tentang konsep yang telah dijalankan tersebut. Bagi pemerintah ini adalah salah satu jalan menuju Banjarmasin sebagai kota seribu sungai. Penghargaan terhadap sungai di kota Banjarmasin yang dilakukan oleh pemerintah daerah memang patut diacungi jempol. Mengingat pentingnya air bagi manusia. Antara lain:

  1. Penyedia air, hal ini sangat berkaitan dengan vitalnya air bagi manusia seperti minum, mencuci, dan banyak kegunaannya yang lain. Namun, seiring dengan bergulirnya waktu kualitas air di Banjarmasin semakin menurun, Bahkan secara spesifik tubuh manusiapun terdiri dari 70% asupan air.

  2. Sarana transportasi. Khusus sungai-sungai besar yang menghubungkan satu wilayah denganwilayah yang lain untuk mengangkut keperluan masyarakat. Sekarang fungsi sungai sebagai sarana transportasi ini sudah jarang karena terjadi pendangkalan dan banyaknya terdapat bangunan diatas sungai atau di pinggiran sungai, baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah sendiri.

  3. Sarana pariwisata, mengingat event yang dicanangkan oleh pemerintah yaitu awal 2009 tentang “visit Indonesia year 2009” menjadikan pemerintah dimasing-masing provinsi mengadakan perbaharuan dibidang kepariwisataan.

  4. Penyedia tenaga, khusus untuk air yang mempunyai intensitas arus yang kuat sehingga dapat digunakan sebagai pembangkit listrik.

  5. Drainase, fungsi ini sangat penting mengingat dilihat dari kondisi geografis kota Banjarmasin yang berada di bawa permukaan air laut sehingga dikhawatirkan akan rawan banjir.

  6. Fungsi irigasi, pendistribusian air ke sawah-sawah juga harus didukung dengan kondisi sungai yang alirannya tetap sepanjang tahun.

Mungkin akibat alasan yang kuat inilah pemerintah apalagi dinas tata kota Kabupaten Banjar berupaya keras untuk menunjukan eksistensinya. Namun, apakah aka nada dampaka lain yang ditimbulkan akibat pembongkaran rumah-rumah penduduk di bantaran sungai yang tentunya akan dirasakan oleh masyarakat yang telah lama mendiami kawasan-kawasan yang dilarang untuk dibanguni tempat tinggal.

Tak ada gading yang tak retak” sekarang kita berbicara dari sudut pandang dan kacamata warga yang rumahnya terkena pembongkaran. Disini tak akan kita lupakan bahwa pemerintah masih berbaik hati untuk memberikan ganti rugi terhadap warga yang rumahnya terkena pembongkaran yang semuanya telah diperhitungkan sesuai dengan ketentuan yang disepakati antara warga dengan pemerintah sendiri.

Oke dapat dibilang ini adil, (1×1=1 atau IMPAS)… yang tahu ada masalah dibalik itu hanyalah masyarakat yang terkena dampak. Seperti sulitnya mencari lahan pengganti yang sesuai untuk mengembalikan mata pancaharian mereka sebagai pedagang. Karena lahan yang ingin dibeli harus berada di pinggiran jalan yang harus banyak dilalui oleh calon konsumen.

mahal” menjadi kata-kata magnet pengikat otak yang hrus diulang untuk mencari solusi atas problem mereka. Perbedaan harga tanah+bangunan dari tahun ke tahun menjadikan para pemilik modal (investor) bersaing untuk menguasai lahan-lahan yang strategis untuk diduduki, terkadang pembangunan ruko-ruko yang telah ada juga tidak dapat dijadikan solusi untuk mendapatkan tempat tinggal yang baru.

Mematikan usaha masyarakat bukan salah satu visi pemerintah. Namun, itulah yang terjadi sekarang dan itu dapat kita lihat dari tingkat pengangguran yang ada di kota besar (Banjarmasin).

Sekarang, haruskah aku kehilangan tempat tinggal? Teman-temanku, tetanggaku, dan bau harum wilayah kelahiranku, yang sekarang tersisa hanyalah rerutuhan rumah yang belum diangkut di tempat baru yang tentunya semuanya akan menjadi baru bagiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s